Gak Pernah Terulang

Tyas, nama itu yang terbersit dalam pikiranku jika mendengar kata ‘malaikat’. Dia adalah malaikat penolong bagiku yang selama ini membantuku jika aku dalam kesusahan. Dia selalu ada di sampingku, dia yang selalu dapat memberikan jawaban atas masalahku. Dia bagaikan sahabat yang saling melindungi dan menyayangi satu sama lain.
Satu kali….
Aku mendapat banyak ujian hari ini. Dari tadi pagi, aku sudah dibuat kesal. “Nak, bangun nak!!” Itu ibuku yang tidak lupa mengingatkanku untuk bangun pagi. Ibuku memang sayang padaku, namun caranya mengekspresikannya aku tidak suka. “Sabar!! Sabar!!” bisik si Tyas menghadapiku yang mulai kesal. Juga di sekolah, aku dibuat jengkel dengan temanku. Dia Reza, teman cowokku yang suka cari gara-gara di pagi hari. Kalau gak godain, paling bikin saya marah. Entah apa yang ada dipikirannya sampai sebegitunya. “Sabar!! Sabar!!” sahutnya dalam hati. Aku mulai bersabar menghadapi semuanya.
Jam istirahat….
Di kantin juga, ada saja hal sepele yang bikin aku jengkel. Aku ingin makan nasi pecel, tapi nasi pecelnya tinggal 1 porsi. Banyak yang berdesakan di depan kantin tersebut. Entah apa tujuan mereka berdiri di situ. Karena lamanya, akhirnya nasi itu pun sudah dibeli orang. Aku pun yang lama menunggunya, cuma diberi informasi “Dek, nasinya sudah habis”. “Sabar!! Sabar!! Saabar!!” bisiknya sambil menenangkanku. “Gak bisa, Des!! Aku sudah gak kuat!!” jawabku yang terlalu keras sampai semua tiba-tiba hening dengan melihatku dengan sinis. Dengan menghela nafas, aku mencoba bertahan sambil menahan rasa malu.
Saat pulang….
Aku pulang seperti biasa melewati jalan yang sama. Terdengar suara orang berlarian dari belakang. Gubrak…. Aku jatuh karena terdorong dari belakang. Saat di situ, aku pun menangis. Aku pun meluapkan isi hatiku di depan umum.
“Ayo kita pergi ke taman di dekat sekolah,” ajak si Tyas. Sampainya di sana, aku pun di ajak duduk dan berbicara dengan si Tyas. Banyak orang bingung melihat aku berbicara dengan siapa. “Aku akan membawamu ke tempat yang tidak pernah diketahui siapa-siapa.” Dengan cepatnya, si Tyas akhirnya menampakkan dirinya kepadaku. Wajahnya yang putih nan cantik, layaknya seorang malaikat yang aku bayangkan.
Aku pun dibawa ke tempat yang sepi, sunyi, dan tenang. Walaupun demikian, di sana itu terdapat banyak kebahagiaan. Suasana tenang yang dapat menyelimutiku dari masalah yang dialami tadi pagi. Aku diajak jalan-jalan berkeliling daerah itu. Entah apa nama daerah itu, pokoknya aku hanya ingin menikmatinya saja. Di sana tidak ada rasa capek, rasa yang gak enak pokoknya. Setelah lama aku berjalan-jalan, aku pun dibawa kembali ke bumiku yang indah ini. Gak bakalan terulang lagi hal ini terjadi kepadaku.
* * *